Langsung ke konten utama

Postingan

Kasih Judul Sendiri

Segelas kopi yang baru aku buat barusan menambah kelam hati hari ini, padahal sehari sebelumnya aku baru saja menyelesaikan salah satu agenda terbesarku, cetak tabloid edisi 144 menjadi cetakan pertama pada jabatanku sebagai pemimpin umum LPM Suara Kampus. Lepas memang, namun ada sesuatu yang menahan untuk bahagia, sejak awal aku yakin semua ini akan menjadi, masalah yang datang setiap hari yang hanya berputar di situ saja. Mekanisme keberangkatan yang sebelumnya sudah direncanakan bertunas abu-abu, tak jelas, ditambah dengan perempuan-perempuan pantek nan egois lagi keras kepala itu menambah rumit urusan yang semula berjalan mulus. Ingin sekali bercerita tapi tak tau kemana hendak, apabila dipikir-pikir tidak ada permasalahan yang begitu rumit. Sebelumnya semua setuju untuk pergi dan telah disiapkan berbanding terbalik dengan hari yang tak bersahabat, akhirnya aku ambil keputusan mengundur keberangkatan untuk beberapa hari selanjutnya, semula semua setuju karena aku sendiri yang ber...

Berpetualang ke Dalam Hati

Perjalanan ini sebenarnya telah dimulai sejak dua tahun lalu, saat itu aku masih berada di kota Padang aku bertemu dengan seorang petualang yang telah melangkahkan kakinya dari tengah Jawa hingga terakhir di Sumatera Barat. Pertemuan yang tidak sengaja ini justru yang menuntunku melangkah lebih jauh menuju tempat yang tak pernah aku kunjungi sebelumnya. Organisasi adalah perantara yang mempertemukanku dengan beliau, Parmik, begitulah dia mengenalkan dirinya, kisah perjalannan yang jauh itu tergambar dari raut, dan perilaku yang jauh berbada dengan orang-orang yang pernah kutemukan, pria yang sudah menginjak kepala dua tersebut memiliki wajah manis khas Jawa Tengah. Tanah Jawa, d iakhir masa kuliah aku mendapat tugas Praktek Lapangan di tvOne Jakata, ini adalah kali kedua aku menginjakan kaki di tanah Jawa, lima bulan lalu aku juga mendapat kesempatan untuk berada di negeri seberang ini, pada kesempatan kali ini aku diberikan waktu yang cukup lama, selama tiga bulan penuh ditugask...

Down Grade Kampusku

Down Grade Kampusku Lembaga pedagogis atau perguruan tinggi adalah batu tertinggi yang harus dilompati oleh pelajar guna mendapatkan gelar, keahlian dan pekerjaan. Setiap perguruan tinggi pasti memiliki standar yang berbeda dalam  sistem pembelajarannya, di Indonesia perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, institut, politehnik, sekolah tinggi, dan universitas. April lalu Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol (IB) Padang  resmi mengubah statusnya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol (IB) padang, perubahan status ini merupakan hasil dari usaha petinggi lembaga yang telah memperjuangkannya semenjak 2006 silam, dalam usahanya merubah status menjadi UIN IB Padang telah mengorbankan beberapa oknum terkait yang terjerat masalah KKN. Status universitas yang disandang oleh UIN IB sekarang disambut gembira oleh begitu banyak mahasiswa, dosen, petinggi, dan beberapa guru besar. Sebagian besar mereka mengatakan perubahan status ini akan berpengaruh be...

"Setuju" dengan Donald Trump

Yarusalem adalah kota tua yang sangat suci, kota ini dianggap keramat oleh tiga agama yaitu Kristen, Islam, dan Yahudi. Agama, dalam ilmu filsafat agama terletak paling bawah, Karena segala sesuatu yang berkaitan dengan agama sangat sensitif dan cendrung mengakibatkan perpecahan antar sesama manusia, orang rela mati demi agama. Sikap yang dilakukan oleh Donald Trump yang telah mengakui bahwa Yarusalem menjadi ibukota Israel adalah keputusan yang “benar”. Trump orang hebat, beliau adalah presiden pertama Amerika yang telah berani mengumunkan secara terang-terangan persetujuan tersebut, sontak keputusan ini langsung ditanggapi oleh dunia internasional dan menjadi berita hangat akhir tahun 2017 ini, hal itu tak lepas bahwa Yarussalem yang telah puluhan tahun berstatus sengketa atas nama negara dilatarbelakangi agama yang sangat kental. Pernyataan Trump tersebut sangat berani, kalau kata orang “Laki benget” sebab setelah puluhan tahun Amerika berdiri tegak di belakang Israel untuk mem...

Kiri Itu Seksi

Kiri Itu Seksi 10 November lalu, bertepatan dengan hari pahlawan tirto.id mengeluarkan sebuah artikel yang berjudul “Tokoh PKI dan Orang Kiri yang Jadi Pahlawan Nasional” kedua tokoh tersebut adalah Tan Malaka dan Alimin. Siapa yang tak kenal Tan Malaka, pendiri partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) itu adalah seorang pemuda minang yang sangat dihormati oleh Ir Soekarno, sejarah pernah mencatat bahwa Soekarno mengatakan. “Apa bila bukan saya maka Tan yang jadi presiden,” tutur pria beristri sembilan tersebut membuktikan bahwa pemikiran Tan punya pengaruh kuat untuk memerdekakan Indonesia, tapi semua adidaya pemikiran seorang Tan tersebut seakan tak berguna di mata masyarakat sekarang hanya karanya beliau adalah seorang komunis.  Ya.. “KOMUNIS”  kata tersebut sengaja saya besarkan karena apabila mendengar kata itu masyarakat Indonesia sekarang berpikir itu adalah paham keras, radikal atau sebagainya, tanpa tau atas dasar apa mereka berpikir seperti itu, padahal me...

"Move on" kok gagal,!! Aarrrrgghhh...

Jangan Jadikan  Gagal “ move on” Menjadi Penyakit  Move on berasal dari dua kata yaitu move berarti pindah dan on yang memiliki beberapa arti “di, atas, pada, tentang, untuk”  namun apabila dua kata tersebut digabungkan menjadi satu kesatuan, artinya berpindah, istilah move on ini acap kali diterjemahkan berbeda oleh kebanyakan orang tergantung keinginan. Kata move on sudah tak asing di telinga, mulai siswa SD sudah mengerti  makna dari istilah bahasa inggris tersebut, sebagian besar anak muda jaman sekarang menggunakan istilah move on tersebut dalam urusan percintaan, banyak kasus yang menjerat  siswa SD, SMP, SMA, bahkan tingkat mahasiswa yang memakai kata move on ini dalam urusan percintaan mereka. “Kau harus lupakan dia dan move on dari dia, karena masih banyak laik-laki/wanita lain yang lebih baik”  kata-kata yang serupa itu sering terdengar, sebagian orang menyikapinya dengan cara yang berbeda, ada yang berhasil dan ada juga yang...

"Pai Barayo" Ke Rumah Tan Malaka

Tokoh-tokoh besar asal Sumatera Barat memang ditakdirkan Tuhan untuk dilahirkan pada masa yang sangat dibutuhkan yaitu sebelum dan pancaroba kemerdekaan, nama-nama besar seperti Muhammad Yamin, Agus Salim, Buya Hamka dan Muhammad Hatta telah menghiasi sebagian besar sejarah yang pernah dicatat. Namun dibalik seorang Hatta dengan pemikirannya, Yamin dengan pemikirannya, Agus Salim dengan ketegasannya dan Buya Hamka dengan pengetahuan agama dan sastranya, hadir diantara mereka seoran gerilyawan yang cerdik, pemikir keras dan pandai, dia adalah seorang konseptor Kemerdekaan Republik Indonesia yang mengatakan bahwa Indonesia telah merdeka apabila kemerdekaan politik sudah 100% di tangan rakyat. Dia adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka atau yang kita kenal dengan Tan Malaka. Pagi itu (25/06) setelah melaksanakan solat Eid, hati ini tergerak untuk melihat langsung kediaman pengarang buku GERPOLEK tersebut, memang sudah lumayan lama saya tertarik dengan tulisan-tulisan milik Tan Malaka....