Langsung ke konten utama

Postingan

"Move on" kok gagal,!! Aarrrrgghhh...

Jangan Jadikan  Gagal “ move on” Menjadi Penyakit  Move on berasal dari dua kata yaitu move berarti pindah dan on yang memiliki beberapa arti “di, atas, pada, tentang, untuk”  namun apabila dua kata tersebut digabungkan menjadi satu kesatuan, artinya berpindah, istilah move on ini acap kali diterjemahkan berbeda oleh kebanyakan orang tergantung keinginan. Kata move on sudah tak asing di telinga, mulai siswa SD sudah mengerti  makna dari istilah bahasa inggris tersebut, sebagian besar anak muda jaman sekarang menggunakan istilah move on tersebut dalam urusan percintaan, banyak kasus yang menjerat  siswa SD, SMP, SMA, bahkan tingkat mahasiswa yang memakai kata move on ini dalam urusan percintaan mereka. “Kau harus lupakan dia dan move on dari dia, karena masih banyak laik-laki/wanita lain yang lebih baik”  kata-kata yang serupa itu sering terdengar, sebagian orang menyikapinya dengan cara yang berbeda, ada yang berhasil dan ada juga yang...

"Pai Barayo" Ke Rumah Tan Malaka

Tokoh-tokoh besar asal Sumatera Barat memang ditakdirkan Tuhan untuk dilahirkan pada masa yang sangat dibutuhkan yaitu sebelum dan pancaroba kemerdekaan, nama-nama besar seperti Muhammad Yamin, Agus Salim, Buya Hamka dan Muhammad Hatta telah menghiasi sebagian besar sejarah yang pernah dicatat. Namun dibalik seorang Hatta dengan pemikirannya, Yamin dengan pemikirannya, Agus Salim dengan ketegasannya dan Buya Hamka dengan pengetahuan agama dan sastranya, hadir diantara mereka seoran gerilyawan yang cerdik, pemikir keras dan pandai, dia adalah seorang konseptor Kemerdekaan Republik Indonesia yang mengatakan bahwa Indonesia telah merdeka apabila kemerdekaan politik sudah 100% di tangan rakyat. Dia adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka atau yang kita kenal dengan Tan Malaka. Pagi itu (25/06) setelah melaksanakan solat Eid, hati ini tergerak untuk melihat langsung kediaman pengarang buku GERPOLEK tersebut, memang sudah lumayan lama saya tertarik dengan tulisan-tulisan milik Tan Malaka....

Pengaruh sekuler perlahan masuk ke Indonesia

Selamat Datang Sekuler Tiga bulan lalu, Kementrian Agama Republik Indonesia sempat mengeluarkan wacana mengenai sertifikasi ulama, bahwa setiap ulama maupun khatib yang berkhotbah di masjid harus memiliki sertifikat resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah, wacana tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi isu makar yang dianggap berawal dari dakwah ulama. Dengan hadirnya wacana ini, pemerintah dianggap terlalu dalam mengatur umat beragama, tak lagi selaras dengan sila pertama   “Ketuhanan yang maha esa” setiap Penduduk Indonesia bebas memeluk dan menyerbarluaskan enam agama yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghuchu.   Pemerintah Indonesia ramai-ramai menyuarakan wacana tersebut dangan slogan saling menghargai dan toleransi, diantaranya dikutip dari Detiknews 18 Februari 2016 lalu, wakil Presiden Presiden Indonesia Jusuf Kalla mengatakan. “Panggilan salat lewat speaker cukup 10 menit, jangan berlebihan ,” pernyataan JK yang tersebut memberikan   si...